Dunia Kecil Kita #Ruang

#Ruang, Seira Airen_Dunia Kecil Kita.

Aku mengecek kembali jam Arlojiku, dan waktu masih menunjukkan pukul 08.11. Aku mulai gelisah menunggu kedatanganmu, rasanya aku sudah berada disini sejak entah kapan, akupun mulai bosan menunggumu yang harusnya tiba nanti pukul 09.00.

Aku berjalan keluar dari ruang tunggu yang semakin lama semakin sesak, aku berjalan mencarimu, mataku menelusuri lorong-lorong tempat biasanya kereta berhenti dan berjajar rapi menunggu para penumpang, namun tak kutemukan kau dimanapun diantara jejeran gerbong kereta api yang tiba tersebut. “Hufft”Aku berharap kau datang seperti janjimu 3 tahun yang lalu, karena tepat di sini kau berjanji akan menemuiku lagi, masih ku ingat jelas pertemuan pertama kita yang tak disengaja. Aku terjatuh saat mau menaiki gerbong, dan kau menyelamatkanku. Kemudian kita berkenalan.

Setelah itu seminggu sejak pertemuan pertama kita yang tidak disengaja itu kita bertemu lagi disini, dan kau berjanji akan menungguku disini setiap selasa, kamis dan jum’at. Entah demi apa pun itu aku mempercayai janjimu, Waktu itu Selasa pagi pukul 08.20 tepatnya aku sampai disini, dan aku melihatmu sudah tersenyum dengan secangkir kopi, aku berjalan menghampirimu dengan senyum paling cantik yang aku punya.

“Hai, sudah lama?” Sapaku lembut.

“Baru kog, lho bukannya janjiannya jam 08.30 ya? Tumben kamu jam segini udah sampai?”

“Ah, aku harus berangkat pagi, aku takut ketinggalan kereta. Nanti ada rapat soalnya” Jawabku ngasal, agar kamu tidak curiga dan merasa aku sangat menantikannya. “Oh iya bagaimana studymu? Bukankah sudah thesis sekarang?” Aku memulai obrolan dengan menanyakan thesisnya.

“Iya, masi setengah jalan, Sher. Gimana kamu? ”

“Aku? Baik, seperti yang kau lihat sekarang”

“Oh iya, mau kopi?”

Aku pun tersenyum dan menggelengkan kepala, namun kurasa kamu tak memperhatikanku. Hanya dengan pecakapan kecil setiap hari Selasa, Kamis dan Jum’at, itulah yang membuatku semangat berangkat kerja, dan selalu bersusah payah naik KRD, padahal banyak teman yang mau menawariku tumpangan. Semuanya kulakukan demi kamu, ya agar bisa bertemu kamu. Tiga hari dalam seminggu sudahlah cukup bagiku.

Dan pada suatu hari selasa pagi, seperti biasa aku datang lebih awal, Aku mulai mencarimu menelusuri semua ruang dan tempat di ruang tunggu itu dengan sedikit bingung, “dimana kamu??” Desahku, ku fikir hari ini kau juga akan berangkat pagi. Kuputuskan untuk menunggumu, tidak lupa aku membelikan kopi kesukaanmu, dan teh hangat untukku. Sekitar tiga puluh menit sampai kereta datang aku masih menunggumu. Namun kau tak kunjung datang, akhirnya aku putuskan naik kereta tanpa melihatmu, dan meletakkan kopi itu di tempat duduk favoritmu.

Selasa, Kamis dan Jum’at minggu kedua kau juga masih tak muncul. Aku mulai khawatir akan keberadaanmu. Andai aku membuang ego ku dan memberanikan diri meminta contact personmu, aku pastilah tidak akan se-galau saat ini.

“Hufffft.. Kau tak datang lagi? Aku sangat merindukanmu” Ucapku kearah kopi dan kursi favouritemu. Aku melangkah dan masuk kedalam kereta juga akhirnya, dengan tanpa melihatmu untuk kesekian kalinya. Namun waktu aku mau naik ke dalam kereta aku sangat terkejut melihatmu, karena kamu dengan tiba-tiba berlari masuk ke dalam gerbong disaat kereta mulai berangkat.

“Ah, untung masih kesusul, hah..hah..hah” Aku tersenyum bengong melihat atraksimu, dan melihatmu kehabisan nafas, kau berkeringat sangat banyak ku kira itu menambah pesonamu. Untuk berapa saat aku terperangah akan keindahan makhluk di hadapanku. “Hey, kau lihat apa?” tegurmu.

“Ah? Aku sedang, sedang.. lupakan aku tak sedang apa-apa hanya terkejut kau bisa masuk kesini disaat kereta sudah mulai berjalan”

“Aku kan masih mahasiswa nunna, jadi aku masih menyukai tantangan.” Kamu meledekku dengan senyum indahnya.

“But, You Shouldn’t do THAT!” pekikku “Hah., tapi sudahlah jadi kau mengejekku? Aku sudah tua? Begitu?” akupun menghela nafas karenamu.

“Tentu saja tidak nunna, kau sangat cantik! Tidak melihatmu dua minggu ini rasanya aku hampir mati” DEG! Apa-apaan kamu? Kamu merayuku? Oh God help me!

“Ya- apa-apaan kau? Kau merayuku, agar aku membelikan karcis gratis untukmu?” Aku mencoba menetralisir rasa senang yang membuncah di dalam perutku.

“Tentu saja tidak! Aku sangat merindukanmu nunna, aku sakit dua minggu lalu. Apa kau tak merindukanku?” Damn! What Should I say? Aku juga merindukanmu? Gila!! Itu menurunkan derajatku, aku harus jaga image donk.

“Yak! Kau perayu kecil, hahaha” dan hari itulah aku mulai selangkah lebih dekat dengannya. Walaupun umurku dua tahun di atasnya, kamipun kemudian bertukar no telephone, twitter, dan juga kakao talk. Aku merasa memiliki dunia yang lain jika bersamanya.

Tepat pada setahun lalu kamu lulus. Kamu mengatakan bahwa sekarang kamu bergelar Master dan mau melanjutkan Study Doktoral mu di Belanda. God, itu seperti pukulan bagiku, mana mungkin aku bisa melepasmu? Kamu lah duniaku. Dan aku mana mungkin memintamu tinggal di sampingku? Sedangkan aku tahu itu mimpi besarmu. Aku siapanya kamu? Aku seperti wanita tolol yang mencintaimu tanpa harapan kamu akan mencintaiku juga.

Dan disinilah aku sekarang, masih sama di ruangan ini, seperti tiga tahun lalu. Bedanya sekarang aku yang menunggumu tidak sendiri. Menunggu datang untuk janjimu, dan akhirnya kulihat kamu datang. Ya, aku bisa melihatmu turun dari kereta. Kau tersenyum, masih dengan senyum yang sama.

“Hai, bagaimana kabar Aleyna cantik ? Sudah besar ya kamu sekarang?” ya, bukan aku yang disapanya pertama kali. Namun gadis cantik yang berdiri di sampingku ini. Aleyna nama gadis cantik itu, dia tersenyum melihatmu. Sangat cantik bukan? “Melihat fotonya yang tumbuh semakin besar saja sudah membuatku penasaran setiap hari dan ingin pulang!” lanjutmu mengelus rambut Aleyna. “Kamu baru datang dan sudah berceloteh, merindukan Aleyna. Yak! Aku tidak kau rindukan apa?” gerutuku perlahan kepadanya. “Tentu saja aku merindukanmu sayang” kamu kemudian mengusap rambutku. Ya bukan pelukan atau kecupan di kening namun hanya belaian singkat “Bagaimana kabarmu? Baik?” kamu melanjutkan,

“Tentu saja, baik. Dan semakin baik saat kutahu kau pulang hari ini” rajukku.

“Oh, ehm mau kopi?” Dan tepat sekali! Ya, kau masih sama, sama seperti tiga tahun lalu. Kau masih menawariku kopi, sedangkan aku sama sekali tidak bisa meminum kopi. Aku pun hanya memandangmu dan tersenyum. Ingin rasanya mencubitmu dan memukulmu. Namun mana aku bisa, padahal aku sangat merindukanmu, aku tahu ada saat dan tempat-nya namun tidak disini. Karena kau tau, aku masih berstatus nyonya Pram, Aku kamu dan Aleyna adalah dunia kecil lain yang kumiliki sejak dua tahun lalu, dan aku bahagia walau aku bukan apa-apamu tapi aku memiliki duniamu.

Advertisements

Please Write Your Comment Here^^

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s