Because We’re Different?

#20HariNulisDuet-Day 8

Type: Flash Fiction

Author: @SeiraAiren@meutiakbachnar

Because We’re Different?

Mengapa ada cinta jika kita harus berbeda? Bukankah perbedaan itu sebenarnya indah? Seperti adanya siang dan malam, Air dan Api, tapi aku tahu di semua keindahan itu ada yang tidak dapat menyatukan-nya karena mereka memang di ciptakan tidak untuk bersama. Meskipun atas nama cinta, Airen~

Cklek, Klinting..klinting,,

Bunyi pintu terbuka membuat suara bel yang dipasang di depan pintu sebuah kafe di pinggiran Jalan Myeong-dong itu berbunyi. Seorang gadis mungil yang berada dalam sebuah cafe kecil bernama ‘La Cafe’ itu kaget. Ia yang tengah sibuk membereskan setiap sudut ruangan bernuansa Eropa itupun melangkahkan kakinya dengan cepat, menghampiri pintu, dan menyambut empat pelanggan setia cafenya—yang nggak lain adalah keempat sahabat dekatnya.

Empat perempuan dengan style yang berbeda-beda itupun memasuki cafe dan duduk di salah satu bangku yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. “Cafe ini emang selalu sepi… Apa kamu nggak takut tempat kerjamu ini bakal bangkrut, Fae?”

Merasa namanya dipanggil, gadis mungil itu pun menoleh dan menghampiri sahabat-sahabatnya. Ya, Faylola Kim-lah nama si gadis mungil itu. Setiap orang biasa memanggilnya Fae. Fae adalah seorang mahasiswi semester akhir Jurusan Sastra Bahasa Jepang Seoul National University atau yang lebih dikenal SNU. Karena kedua orangtuanya sudah resmi pensiun sejak dua tahun yang lalu, Fae pun akhirnya memutuskan untuk bekerja part-time. La Cafe inilah yang menjadi pilihan tempatnya bekerja.

Biasanya, cafe akan menjadi tempat yang digandrungi oleh banyak orang. Baik dari kalangan tua ataupun muda. Tapi… La Cafe berbeda dengan cafe-cafe lainnya. La Cafe selalu terlihat sepi, kecuali di hari Sabtu malam—dimana La Cafe akan dipenuhi oleh pelanggan perempuan.

“Nggak, tuhI really enjoy my work” balas Fae, yang sempat terdiam untuk beberapa menit.

“Nah, sekarang semuanya sudah ngumpul, kan?” ujar sahabat Fae yang bernama Song Qian, mengalihkan pembicaraan. “Sebenarnya aku mengajak kalian semua kesini adalah untuk…”

Song Qian pun menampakkan jari manisnya yang sudah dihiasi oleh cincin perak sambil tersenyum bahagia. Pemandangan ‘cincin-di-jari-manis-Qian’ inilah yang membuat café itu menjadi ribut seketika. Kelima perempuan yang tengah duduk bersama itu sibuk menanyai Qian—mengenai keputusannya untuk bertunangan dengan seorang pria bernama Kang Nickhun.

“Nah, dengan resminya Qian yang udah tunangan dengan Nicky… Sekarang, kita semua tinggal nunggu kamu, Fae. Ayo dong… kamu harus toleransi sama diri kamu sendiri. Pikiran kamu itu jangan cuma dipenuhin sama kerja-kuliah-kerja lagi. Apa kamu nggak mau menikah? Umur kamu udah nggak muda lagi… 23 tahun!” sahut Eunhye, yang duduk persis di sebelah Fae.

Fae hanya terdiam. Raut wajahnya berubah, pandangannya hampa, dan mulutnya tertutup rapat. Tiba-tiba… CKLEK! Lagi, suara pintu dan bel berdentangan terdengar kembali, kali ini memecahkan keheningan sesaat yang ada di dalam cafe. Fae kembali bernapas lega saat mendapati seorang pelanggan lain masuk ke dalam cafe dan duduk di sebuah bangku yang cukup jauh dari bangku yang tengah ditempatinya sekarang.

“Hei, kayaknya aku sering liat dia…” celetuk Qian, sambil memerhatikan seorang pria kurus-tinggi menggendong gitar di punggungnya dan memegang kamera SLR di tangan kirinya.

“Dia yang biasa manggung disini waktu malem minggu. Dia yang ngebuat cafe ini penuh sama cewek tiap malem minggu” sahut Fae. “Namanya Nathan”

***

Nathan Park. Penampilan urakan, pendiam, namun memiliki bakat luar biasa. Dialah satu-satunya alasan yang membuat La Cafe ini ramai pengunjung—walaupun cuma satu hari. Umurnya yang masih muda, wajahnya yang tampan, dan sifatnya yang misterius inilah yang membuat banyak pelanggan perempuan di cafe ini menanti-nantikan kehadirannya untuk melakukan live singing performance. Tapi… siapa yang menyangka bahwa di hati Nathan sudah terpahat satu nama? Faylola Kim.

Nathan dan Fae sudah saling mengenal untuk waktu yang lama. Dan dalam waktu yang lama itu pulalah mereka sudah berpacaran, tanpa seorang pun tahu mengenai hubungan dekat diantara mereka berdua. Nathan dan Fae memilih untuk menyembunyikan hubungan mereka karena satu alasan, alasan yang membuat mereka enggan mempublikasikannya karena perbedaan keyakinan pada keduanya.

***

“Oh pantas aku sering liat dia. Dia juga mahasiswa SNU kan?” tanya Sicca.

“Yupp, tapi dia masih semester enam, Ca.” Sahut Angel yang sedang melahap kue brownies stroberry nya.

“Loh, kau kenal dia, Ngel?” Sicca semakin heran dengan teman-temanya karena mereka mengenal lelaki itu sedangkan dia tidak.

“Tentu saja, pabo! Dia itu adik tingkat ku waktu SMA, dan ku kira dia itu satu jurusan sama Fae, iya gak Fae?”

“Ah, i-iya” Fae terlihat gugup menjawab pertanyaan Angel. Satu alasan lagi bagi Fae untuk merahasiakan hubungannya dengan Nathan, yaitu Angel. Karena Angel kenal keluarga Nathan. Tanpa sadar Fae dibawa kepada kejadian sebulan yang lalu dimana ia dan Nathan yang bertugas untuk menutup café.

****

“Kamu pulang aja dulu Fae, biar aku sendiri yang menguncinya ntar. Besok kuncinya aku antarin kerumah kamu” pinta Nathan malam itu kepada Fae

“Enggak, aku mau nunggu kamu selesai kog. Santai aja lagi” dan tanpa sadar Nathan melihat senyum Fae yang sangat mempesona, maka spontan Nathan bicara sama Fae.

“Fae, aku boleh bilang sesuatu?”

“Ya, apa?”

“Aku sangat suka senyummu, maukah kau hanya tersenyum seperti itu untukku setiap hari?”

“Eh, maksudmu?” Fae nampak terkejut, apa dia tidak salah dengar?

“Fae, terus-terang. Aku suka kamu. Aku suka senyumu, tawamu, caramu berbicara. Semua Fae, dan aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya!” Nathan berbicara dengan nada yang agak sedih. Namun Fae hanya tersenyum kecut seperti biasa.

“Nathan, bukankah kita sudah bicara tentang masalah ini berkali-kali? Dan berkali-kali juga ku..”

“Stop Fae, ” potongnya “Kalo kamu masih bilang ini karena umurku! Fae, aku dan kamu hanya beda setahun Fae! Gak lebih! Please, Fae jangan kaya anak kecil. Aku tahu, ini karena kita berbeda agama. Jika kau mau menikah denganku, meskipun aku harus pindah dari agamaku karena kamu. Aku rela Fae!” Nathan mulai merajuk lagi.

“Nathan, aku gak mau kamu pindah agama hanya karena aku. Aku gak mau memiliki suami seorang penghianat.” Ucapn Fae santai.

“Maksudmu Fae? Aku? Pengkhianat?” Nathan mulai mengernyitkan dahinya, Fae pun hanya tersenyum.

“Ya, tentu saja! Tuhan saja berani kau khianati. Apa lagi aku? Seorang manusia biasa? ” Fae tersenyum kepada Nathan dan berangsur pergi meninggalkanya dalam kekecewaan dan kebingungan.

***

“Fae? Hallo?” Sapa Qian sambil melambaikan tangannya di depan wajah Fae, “Eh, iya?” jawab Fae terkejut.

“Yah, kita crita dia nglamun. Payah!” sahut Angel. Fae pun tersenyum dan melihat laki-laki yang bernama Nathan itu masih berada di tempatnya.

Entah apa yang dilakukannya saat ini

Word Count: 965

Advertisements

One thought on “Because We’re Different?

Please Write Your Comment Here^^

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s