Is it too late?!

#20HariNulisDuet-Day 7

Type: Flash Fiction

Author: @SeiraAiren & @yuridistapp

Is it to late?!

Andaikan bumi berhenti sejenak untuk berotasi, dan matahari berhenti terbit dari timur.. Apakah boleh aku bertanya? Apakah boleh semua ku ulangi dari awal, dan memulai semuanya kembali?

Anak lelaki kecil itu memandang anak perempuan yang duduk di sebelahnya dengan pandangan sedih. “Apa kau benar-benar harus pindah?” tanya Irgan, nama anak lelaki itu, dengan suara pelan. Matanya mengerjap, jelas sekali dia sedang berusaha untuk tidak menangis.

Anak perempuan bernama Kalyana yang duduk di sampingnya tersenyum kemudian menyahut, “Kau kan punya nomor handphoneku!  Jangan bersikap seolah aku akan pergi jauh dan tak kembali gitu, dong.”

Irgan membuang nafas. “Tetap saja tidak sama. Aku tidak akan bisa melihatmu lagi setiap hari, fyuhhh” tukasnya.

“Kau bisa berkunjung kan kapan-kapan, kalau umurmu sudah sedikit lebih tua” ucapnya “Come on Irgan, jangan terlalu sedih begitu. Aku janji kita akan tetap jadi sahabat,” Kalyana berusaha menenangkan sahabatnya itu, kemudian menepuk-nepuk lembut bahu Irgan.

“Sahabat?” Irgan mengulangi, nadanya tidak yakin.

Kalyana mengangguk bersemangat. “Tentu saja.”

Irgan memandang anak perempuan itu, bertanya-tanya dalam hati apakah dia benar-benar serius dengan kata-katanya. Mereka akan tetap jadi sahabat—selamanya? Benarkah begitu?

“Sahabat selamanya?” tanya Irgan menyuarakan pikirannya.

“Iya,” Kalyana menjawab, senyumnya meyakinkan.

Irgan membalas senyum itu, tapi hatinya tampaknya tidak setuju. Kau harusnya bilang padanya kalau kau menyukainya Irgan, hatinya meneriakinya tak sabar. Jangan jadi pengecut, tambah hatinya lagi.

“Nanti kalau kita sudah besar dan kau berkunjung ke rumahku, kau pasti akan terkejut karena aku akan menjadi gadis yang sangat cantik dan mengagumkan, kekeke~” ujar Kalyana, kemudian nyengir lebar kepada Irgan.

Irgan tertawa, kemudian berkata dalam hati, “Ya,, suatu hari nanti, ketika kita sudah dewasa, ketika aku sudah menjadi lelaki tampan yang berani menatapmu dan mengatakan perasaanku padamu, aku pasti akan datang padamu, Kalyana. Kita akan memulai semuanya, suatu hari nanti…

***

Setelah sepuluh tahun kemudian, di sebuah tempat perbelanjaan di daerah Surabaya, terdapat sesosok gadis duduk manis yang terlihat gusar menunggu seseorang iya dengan tidak sabar mengotak atik handphonenya. Sepertinya dia tidak suka menunggu. Setelah beberapa saat kemudian datanglah seorang lelaki menuju meja gadis itu.

“Hai! Apa kah sudah menunggu lama?”

“Tidak, baru saja. Tapi aku sedang mencoba menghubungi temanku, aku ingin bertemu dengannya. Namun sepertinya kebiasaannya lupa membawa handphone terjadi lagi”

“Siapa ?  ”

“Haruskah kau tahu ?”

“Haha~ kau selalu bercanda”

“Yes, ”

“Kenapa tidak kirimkan saja suratnya ?”

“Dia bukan tipe orang yang bekerja di suatu tempat” ucap Kalyana frustasi.

****

Sementara itu di suatu tempat yang berisik oleh mesin, Irgan mencoba mengambil hanphonenya yang berada di saku celananya. Dia terkejut ketika dia mendapatkan 12 pesan dan 7 missed call dari orang yang sama. Lebih tepatnya, Sesosok gadis yang sudah lama mengisi relung hatinya. Dan lebih terkejutnya ketika Irgan membaca pesannya.

From : KaLyana~

“Hi, Apa kau sibuk ?”

 

From: KaLyana~

“Mengapa kau tidak mengangkat telfonku? Dimana kamu?”

 

From: KaLyana~

“Apakah kau masih bekerja? Apakah suara mesin itu yang membuatmu tidak mendengar bunyi handphonemu? Aish, sudah kubilang, seorang Arsitek tidak perlu telibat langsung dalam hal konstruksi lapangan”

 

Setidaknya semua pesan berisi sama, yaitu mengkhawatirkan dirinya. Kemudian senyumnya semakin mengembang ketika dia mengetahui kalo Kalyana ingin bertemu dengannya. Tak selang beberapa saat kemudia ia menekan tombol no 2, ya tombol no 2 adalah tombol speed dial untuk Kalyana.

“Hallo,” Suara orang diseberang sana. “Oh, hallo? Kalyana, ada apa?” tanya irgan to the point.

“Kemana saja kau? Kau selalu melupakanku ketika aku membutuhkanmu!” terdengar suara Kalyana manja. Ya seperti biasa Kalyana akan manja dengan Irgan namun tidak dengan yang lain.

“Aku sibuk na, kau tahu kan aku harus ke tempat proyek?”

“Aku tahu, tapi aku ingin ketemu! Bisa?”

“Kapan?”

“Bagaimana kalo besok di grand city Surabaya?

Tentu saja, aku akan menemuimu jam 11, waktu makan siang. Ok?

“Yaa, Bye” dan suara tersebut mengakhiri sambungan telephone Kalyana dan Irgan. Seperti biasa Irgan selalu terlihat bahagia ketika Kalyana mengajaknya keluar.

****

Irgan melangkah buru-buru menuju tempat janjiannya dengan Kalyana. Hari ini, dia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan mengaku pada sahabatnya itu bahwa dia telah jatuh cinta padanya bahkan sejak mereka berdua masih dua orang anak kecil yang selalu bermain kejar-kejaran berdua. Hari ini, dia akan meminta gadis itu untuk memulai hari-hari berdua bersamanya.

“Kau terlambat,” Kalyana menegur ketika Irgan sudah berada di hadapannya.

Lelaki itu nyengir. “Maaf. Proyek itu menahanku lima menit lebih lama dari seharusnya,” katanya.

Kalyana memutar matanya. “Duduklah.”

“Terimakasih,” ujar Irgan, kemudian melanjutkan, “Ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Kebetulan sekali. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Irgan mengangkat alisnya. “Benarkah? Apa itu?”

Kalyana menyeringai kemudian tersenyum sok berahasia. “Kau duluan.”

Nope. Ladies first,” tukas Irgan.

“Kau selalu pemaksa, Irgan,” balas Kalyana, pura-pura ngambek.

Irgan tertawa, tapi tawa itu langsung berhenti ketika gadis di hadapannya menunjukkan jemari tangan kirinya ke hadapannya. Ada cincin emas putih yang berkilauan di jari manis Kalyana. Dia menelan ludah. Itu artinya…

“Aku akan menikah, Irgan! Menikah! Minggu ini! Percayakah kau?” Kalyana memekik kegirangan seraya menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Irgan yang pias.

Lelaki itu tak menyahut. Dia hanya memandang gadis di hadapannya dengan pandangan sedih yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Hari ini harusnya dia bisa bilang bahwa dia mencintai gadis itu, tapi rupanya untuk memulainya pun dia sudah tak bisa.

“Jadi? Kau ingin bilang apa?” Kalyana bertanya tiba-tiba.

Irgan tertegun, kemudian menggeleng perlahan. “Tidak jadi. Ngomong-ngomong, selamat untuk pernikahanmu, Kal.”

Dia kini sepenuhnya tahu, dia sudah terlambat

 

Word Count: 891

Advertisements

2 thoughts on “Is it too late?!

Please Write Your Comment Here^^

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s